Dengandemikian Habil adalah manusia pertama yang meninggal dunia di muka bumi ini. Adapun Nabi Adam sendiri konon, wafat dalam usia 1000 tahun, dan diyakini dimakamkan di Hindustan. Namun riwayat lain menyebutkan, Nabi Adam dimakamkan di Mekah, bersebelahan dengan makam Hawa, yang wafat setahun kemudian setelah Nabi Adam wafat.
Merekamendurhakai Allah, menyembah selain Allah. Mereka berjalan di muka bumi ini dengan penuh kesombongan. Bahkan mereka melakukan penyimpangan seksual serta kemaksiatan lainnya. Sehingga Allah membinasakan mereka. Berbahagialah kita saat ini masih berdiri bebas melangkah di dunia ini. Ini adalah Ramadhan, saat saat yang tepat untuk
DefinisiQadha dan Qadar. Secara etimologi, qadha memiliki banyak pengertian, diantaranya sebagaimana berikut: 1. Pemutusan, kita bisa temukan pengertian ini pada firman Allah, “ (Dia) yang mengadakan langit dan bumi dengan indahnya, dan memutuskan sesuatu perkara, hanya Dia mengatakan: Jdilah, lalu jadi.” [QS.
lainwalaupun maksud dari kata langit dan bumi ini adalah langit surga dan bumi surga berarti tetap saja langit surga dan bumi surga tersebut suatu saat akan mengalami kehancuran karena ada kata selama ada langit surga dan bumi surga. Kalau yang dimaksud dari QS Huud: 106-108 adalah kekal selamanya seharusnya tidak ada lanjutan
Jibrilberkata (kepadaku) ‘ini adalah Idris; berilah dia salammu.’ Maka aku mengucapkan salam kepadanya dan ia mengucapkan salam kepadaku dan berkata. ‘Selamat datang saudaraku yang alim dan nabi yang saleh . (Sahih Bukhari 5:58:227). Kisah Nabi Idris dapat menjadi teladan dan contoh bagi Anda dalam menjalani kehidupan di bumi ini.
Tingkatantingkatan iman adalah: Taqlid, tingakatan keyakinan berdasarkan pendapat orang lain tanpa dipikirkan. Dengan kata lain, keyakinan yang dimilikinya adalah meniru ada orang lain tanpa tahu dasarnya. didalam ajaran Islam akhlak itu sangan pentng dan bersifat komprehensif dalam mencakup berbagai mahkluk di muka bumi ini. Hal demikian
kvB0WO. Yesus bertanya kepada kita, adakah iman di bumi ini Bila dia datang kedua kalinya Untuk menghakimi dunia REFF Apa yang kau buat selama hidupmu Adakah iman di hatimu Allahkan membenarkan orang pilihanNya yang sungguh berharap padaNya
MenuDDC SermonDDC Sermon is collection of refreshing and encouraging Christian messages from Duta Discipleship Church. Brought to you by preachers from multiple backgrounds, listeners will be able to listen to diverse styles. Duta Discipleship Church is a church based in Tangerang, 22nd, 2019•12255Jika pertanyaan ini diajukan, mungkin banyak orang berkata orang-orang percaya memiliki iman. Tapi, apa yang sebenarnya dimaksud Yesus ketika Ia menanyakan ini?EducationalInterestingFunnyAgreeLoveWowAre you the creator of this podcast?Listen to DDC SermonRadioPublicA free podcast app for iPhone and AndroidUser-created playlists and collectionsDownload episodes while on WiFi to listen without using mobile dataStream podcast episodes without waiting for a downloadQueue episodes to create a personal continuous playlistOr by RSS with listenersPodcasters use the RadioPublic listener relationship platform to build lasting connections with fansYes, let's begin connectingFind new listenersA dedicated website for your podcastWeb embed players designed to convert visitors to listeners in the RadioPublic apps for iPhone and AndroidUnderstand your audienceCapture listener activity with affinity scoresMeasure your promotional campaigns and integrate with Google and Facebook analytics Engage your fanbaseDeliver timely Calls To Action, including email acquistion for your mailing listShare exactly the right moment in an episode via text, email, and social mediaMake moneyTip and transfer funds directly to podcastsersEarn money for qualified plays in the RadioPublic apps with Paid Listens
Renungan Harian Misioner Selasa, 24 Maret 2020 Hari Biasa Pekan IV Prapaskah P. S. Katarina dr Swedia Yeh. 471-9,12; Mzm. 462-3,5-6,8-9; Yoh. 51-16 Injil hari ini menampilkan sebuah kisah tentang apa yang terjadi di Yerusalem, dekat Pintu Gerbang Domba di sebuah kolam yang disebut Bethesda. Kolam itu mempunyai lima serambi dan di serambi-serambi itu berbaringlah sejumlah besar orang sakit. Dari antara mereka, ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Penderitaan Manusia Tiga puluh delapan tahun sakit, sungguh-sungguh menyakitkan. Secara fisik jelas, ia tidak bisa bergerak banyak. Ia sering hanya bisa berbaring menahan rasa sakit itu sendiri. Secara batiniah ia tidak merasa nyaman, atau bahkan tersiksa dalam waktu lama. Secara rohani lebih lagi, ia tidak tahir, merasa digolongkan sebagai pendosa seturut pandangan zaman. Bukan mustahil kalau dia merasa ditinggalkan oleh Allah sendiri. Penderitaan orang itu adalah penderitaan kita juga. Wabah corona yang melanda dunia saat ini membuat kita merasa cemas. Pergerakan kita terbatas. Pertemuan-pertemuan yang membawa sukacita tertunda sampai masa yang belum pasti. Barangkali terlalu berlebihan kalau situasi kita saat ini bak kota Oran, yang dilukiskan Albert Camus dalam “La Peste”, tiba-tiba terjangkit penyakit sampar. Penyakit itu datang secara mendadak dan membuat seluruh penduduk kota cemas. Akan tetapi penduduk kota itu tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menerima saja. Permasalahan menjadi “absurd” karena penyakit sampar bukanlah akibat dari suatu sebab, apalagi yang menjadi korban adalah anak-anak yang tidak bersalah. Bagi Henry Nouwen, penderitaan semacam ini merupakan penderitaan yang biasa kita alami. Baginya, penderitaan abad ini bukalah disebabkan oleh kemiskinan, penyakit, bencana alam, atau bahkan terorisme, melainkan karena manusia sudah kehilangan kontak dengan yang Ilahi. Inilah yang kiranya penderitaan yang paling dahsyat dalam hidup manusia. Kitab Suci memberi kesaksian bahwa sebagai manusia, Yesus juga mengalami hal ini. Demi keselamatan banyak orang, Ia berhadapan dengan berbagai macam tantangan dan penderitaan. Penderitaan yang paling berat dirasakan-Nya ketika Dia merasa ditinggalkan oleh para murid-Nya dan bahkan oleh Allah sendiri, seperti terucap dalam doa ini “Eloi, Eloi, lama sabakhtani” – “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Mrk. 1534. Iman dan Perjuangan Kita tidak bisa mengerti apa yang diperbuat Yesus terhadap orang itu. Bagaimana mungkin Ia mengatakan “bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah” kepada seorang yang tidak berdaya. Bukankah hal itu merupakan sesuatu yang mustahil? Namun demikian, orang itu berbuat seperti apa yang dikatakan-Nya. Perjuangan untuk melakukan tiga hal yang mustahil itulah yang merupakan tanda bahwa dia masih mempunyai iman. Iman dalam pelajaran agama berbunyi “penyerahan diri secara total” kepada Allah. Tetapi dalam realita hidup sehari-hari, iman berbunyi lain. Dalam situasi kekurangan, iman Maria mengatakan “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu” Yoh. 25. Dalam situasi kegagalan, iman Petrus berkata “Guru telah sepanjang malam kami bekerja dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga” Luk. 55. Dalam keadaan sakit pendarahan selama dua belas tahun dan hampir putus asa karena hartanya sudah habis, iman perempuan itu muncul dalam kata-kata ini “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh” Mrk. 5 28. Demikian juga iman seorang perwira “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” Mat. 88. Iman dan perjuangan membuat penyembuhan terjadi. Karena itu peran keduanya dalam menghadapi penderitaan tidak perlu lagi diragukan. Telah terbukti bahwa mereka yang mempunyai iman dan terus berjuang akan mendapatkan kekuatan adikodrati yang melampau batas kekuatan dan kehebatan manusia. Kecemasan dan keputusasaan adalah tanda kurangnya iman. Hal inilah yang membuat manusia tidak bisa melihat bahwa di balik situasi berat yang tidak bisa diatasi dengan cara manusia, ternyata ada rencana ilahi yang tidak mudah untuk dipahami. Iman yang dimiliki oleh orang sakit itulah yang dicari oleh Tuhan, seperti tertulis “Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Luk. 188. RP. Anton Rosari, SVD – Imam di Keuskupan Bogor DOA PERSEMBAHAN HARIAN Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu. Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini Ujud Evangelisasi Umat Katolik di Cina Semoga umat Katolik di Cina bertahan dalam keteguhan iman pada Injil dan bertumbuh dalam persatuan. Kami mohon… Ujud Gereja Indonesia Pasar tradisional Semoga di tengah merebaknya mal-mal modern, pasar-pasar tradisional tetap bisa berfungsi dan memperoleh hak hidupnya sehingga pedagang-pedagang kecil tetap bisa menjalankan aktivitas ekonominya. Kami mohon… Ujud Khusus Kami menghunjukkan Masa Prapaskah untuk menjadi masa Penyelenggaraan Latihan Keadilan bagi seluruh umat Keuskupan kami. Kami mohon… Amin
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Syalom, di sini dapat di perjelas bahwa Iman tidak identik agama. Orang yang beragama belum pasti beriman. Sebaliknya, orang yang beriman hampir pasti beragama. Dengan kata lain, iman merupakan kelanjutan dari penghayatan agama yang baik dan benar. Atau bisa juga dikatakan bahwa agama belum tentu menjamin seseorang untuk beriman. Tesis di atas menjadi nyata apabila kita menyimak realitas hidup beriman di tengah pluralitas agama di Indonesia ini. Berdasarkan studi dan penelitian dari lembaga yang berwenang dan kompeten di bidangnya, aneka konflik, pertikaian, selisih paham, disharmoni hidup beragama dan yang semacamnya seringkali terjadi akibat fanatisme agama yang berlebihan. Fanatisme itu sendiri seringkali muncul akibat pemahaman ajaran agama yang minim bahkan mungkin juga keliru. Lebih penting dari itu, fanatisme juga muncul sebagai akibat dari penghayatan iman yang dangkal. Kebanyakan individu sudah berpuas diri dengan memeluk suatu agama tertentu tanpa berusaha menghayati iman yang benar dan mendalam dari ajaran agama tersebut. Oleh sebab itu, kita tidak heran bila menghadapi aneka tantangan dalam menumbuhkan iman di bumi Indonesia singkat tentang iman di tengah pluralitas agama di Indonesia ini merupakan studi dan refleksi kritis atas iman Kristiani dan bagaimana iman itu bertumbuh dan berkembang bersama entitas agama-agama yang lain di Indonesia. Skema pembahasannya cukup sederhana, karena nyaris mengadaptasi metode kecil yang singkat dan padat. Pertama-tama akan diuraikan pemahaman tentang iman dan agama dalam perspektif keutamaan teologal beserta aneka dimensi penting yang mengikutinya. Kedua, penulis ingin mengulas pluralitas agama dengan aneka permasalahannya yang sedikit banyak berpengaruh pada penghayatan iman Kristiani kita. Sementara itu, bagian ketiga dari paper ini akan menyajikan refleksi kritis untuk tidak secara langsung mengatakan soal solusi yang korektif atas penghayatan iman Kristiani kita di tengah penghayatan iman dari agama-agama lainnya. Dalam teologi moral dan/atau sistem keutamaan-keutamaan, iman berada dalam wilayah keutamaan teologal. Oleh sebab itu, sebelum masuk dalam pembahasan tentang iman, di sini akan diuraikan secara sepintas apa itu keutamaan teologal. Keutamaan adalah itu yang memungkinkan dan memudahkan perbuatan-perbuatan moral sehingga membuat manusia menjadi sempurna. Dengan kata lain, keutamaan mengandaikan kecakapan, kemahiran, kepandaian, kesiagaan, kesediaan dan sebagainya yang membuat manusia mampu mewujudkan bonum morale dengan gembira, tekun dan tabah. Sementara itu, terminologi teologal memaksudkan sifat dari keutamaan itu, yakni yang berhubungan langsung dengan Tuhan sendiri. Dengan demikian, keutamaan teologal dipakai untuk membedakannya dengan keutamaan-keutamaan moral yang berpusat pada ciptaan. Keutamaan teologal adalah keutamaan yang menjadikan Tuhan sebagai sasaran langsung, objek formal dan motivasi utama dan pertama dari perbuatan manusia yang bekeutamaan. Jadi, keutamaan teologal ini bersifat keutamaan teologal bersifat adikodrati, maka keutamaan ini berurusan langsung dengan sikap manusia terhadap penciptanya. Menurut ajaran resmi teologi Katolik, ada tiga keutamaan teologal, yakni iman, harapan dan kasih. Ketiga keutamaan ini diibaratkan sebagai tiga sinar bias dari satu sinar pokok, yakni sikap dasar optio fundamentalis kita yang menerobos kaca prisma untuk memasuki hidup manusia. Keutamaan teologal ini memiliki dasar Biblis. Paulus menulis tentang karya iman, pengabdian kasih dan keteguhan harapan dari umat di Tesalonika 1 Tes 13. Ia memberikan prioritas utama pada tiga keutamaan tersebut, "Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yakni iman, harapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih" 1 kor 1313. dalam uraian di bawah ini saya hanya akan mengelaborasi iman saja. Hal ini dilakukan agar pembahasan lebih lanjut bisa fokus pada persoalan yang diajukan dalam pengantar dari paper ini. Apa itu Iman dan apa itu Agama? Iman adalah kepercayaan seseorang akan sesuatu yang berhubungan dengan agama, keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, Kitab Suci dan sebagainya. Akan tetapi iman juga bisa berarti ketetapan dan keteguhan hati serta keseimbangan jasmani dan rohani seseorang. Sementara itu, agama diartikan sebagai kepercayaan kepada Tuhan beserta dengan sifat-sifat kekuasaanNya dengan ajaran dan kewajiban-kewajiban yang berhubungan dengan kepercayaan itu. Dari pengertian umum ini, secara sepintas kita nyaris tidak menemukan perbedaan yang mencolok antara iman dan agama. Namun bila disimak lebih cermat, ada perbedaan yang cukup mendasar di antara keduanya. Dengan beragama diandaikan seseorang memiliki aneka kewajiban untuk mentaati segala aturan, hukum, ajaran, perintah, larangan dan sebagainya dari agama tersebut. Di lain pihak, orang yang beriman tidak semata-mata berurusan hanya dengan soal-soal tersebut. Orang beriman menghayati hidup keagaamannya dengan cara mengatasi aneka ketentuan hukum agamanya. Aneka ketentuan agama sudah secara mekanis-otomatis merasuk dalam dirinya dan menjadi sumber, kekuatan, daya, penggerak, inspirasi dan motivasi bagi bagaimana Gereja Katolik memahami dan mengerti iman itu?Untuk memahami arti iman dalam konteks dan perspektif agama Katolik. Pertama, secara terminologis, iman berasal dari akar kata Semit Arab 'Amn/Aman' yang berarti teguh, setia. Kedua, dalam dunia Perjanjian Lama, Aman atau he emin bisa berarti hubungan timbal-balik, personal dan istimewa antara Tuhan dengan manusia. Sama seperti Perjanjian Lama, Perjanjian Baru meneruskan pemahaman yang lalu. Akan tetapi, iman pisteuo=Yunani sudah memiliki tendensi arti yang lebih jelas, yakni percaya akan Sabda Tuhan, patuh atau taat serta memiliki juga unsur kesetiaan. Dalam Tradisi khususnya Teologi Skolastik, pemahaman tentang iman dibedakan menjadi tiga. Pertama, Credere Deum. Artinya percaya bahwa Tuhan itu ada. Kedua, Credere Deo. Artinya, percaya kepada Tuhan mengenai apa saja yang diwahyukanNya. Ketiga, Credere in Deum. Artinya, percaya akan Tuhan berupa iman yang hidup dan sudah diresapi oleh cinta kasih. Ungkapan-ungkapan ini berasal dari St. Agustinus. Tiga ungkapan Agustinian ini menonjolkan segi personal dari hidup beriman yang ditujukan kepada persona atau yang merupakan sasaran beriman Iman Perlu Dijaga? Karena berangkat dari suatu pengandaian bahwa di dalam dunia ada tantangan yang menghadang perkembangan dan pertumbuhan iman tersebut. Iman merupakan anugerah dan sekaligus tugas dari Allah sendiri. Oleh sebab itu, iman harus berkembang dalam diri manusia lewat pembinaan dan penghayatan yang benar. Mengapa iman perlu dijaga? Ada beberapa alasan yang dapat diberikan. Pertama, iman berasal dari Allah sendiri. Iman bukan hasil usaha dan kerja keras manusia. Maka, apabila manusia secara personal menyia-nyiakan iman yang ada dalam dirinya, sama artinya dengan meniadakan Allah dalam hidupnya. Kedua, iman perlu dijaga karena menjamin keselamatan kekal/rohani manusia. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa iman akan Kristus Yesus dibutuhkan oleh setiap orang yang percaya kepadaNya sehingga sampai pada pengetahuan yang jelas akan Allah dan berkat rahmat Ilahi berusaha menempuh hidup yang benar LG Ketiga, iman perlu dijaga, mengingat bahwa ia hadir dalam dunia dan dalam realitas manusiawi yang lemah. Manusia rohani tidak bisa ada sendirian tanpa eksistensi manusia badani. Hal ini sangat riskan bagi iman yang secara nyata harus diwujudkan dalam tindakan konkrit manusia. Dari ketiga alasan di atas, kiranya sudah cukup jelas mengapa kita mesti menjaga iman yang melekat dalam diri dan menghidupi diri Cara Beriman? Kita mengandali adanya usaha dan tindakan praktis untuk menerapkan iman yang dihidupi oleh pribadi tertentu. Menurut hemat saya, paling tidak ada tiga cara yang perlu untuk melaksanakan, mengimplementasikan serta menghayati iman dalam hidup sehari-hari. Terminologi 'paling tidak' mau mengatakan bahwa bisa jadi ada banyak cara yang dipakai setiap pribadi beriman untuk melakukan tindakan berimannya. Pertama, hidup yang diresapi dan digerakkan oleh Sabda Allah. Setiap hari orang-orang beriman diberi santapan sabda. Penanggalan liturgi menyajikan bahan bacaan dari Sabda Allah yang telah disusun menurut misteri iman Kristiani. Dengan demikian, Sabda Allah menjadi sumber hidup dan teladan beriman sebagaimana digambarkan dalam setiap permenungan yang ada dalam Kitab Suci tersebut. Orang yang tidak pernah membaca, merenungkan dan mengamalkan segala sesuatu yang ada dalam Kitab Suci nyaris mustahil bisa mengembangkan dan memelihara imannya dengan baik. Kedua, hidup dalam pengharapan. Seorang Kristiani yang baik adalah dia yang selalu memiliki pengharapan dalam hidupnya yang diselamatkan oleh Kristus sendiri. Harapan tersebut tidak bisa dipahami sebagai tindakan menunggu dengan pasif karya keselamatan Allah. Akan tetapi, merupakan suatu tugas dan pengabdian kepada Allah demi jaminan hidup di masa yang akan datang. Dengan harapan yang ada padanya, orang Kristiani menyiapkan dirinya untuk menjadi warga negara Allah di dalam persekutuan dengan Dia. Ketiga, iman hendaknya dinyatakan dalam perbuatan kasih. Iman mengandaikan dan melahirkan cetusan cinta kasih. Iman memiliki disposisi untuk melakukan perbuatan kasih, karena mengandung kerinduan akan persahabatan dengan Tuhan sendiri yang adalah kasih. Maka iman juga merupakan awal bagi perbuatan Ambrosia Desi MelianaNIM 131811133021Fakultas KeperawatanProdi S1 - Keperawatan 1 2 Lihat Pendidikan Selengkapnya
Itu adalah pembawaan lagu yang paling baik dari lagu indah, “Pengembara yang Sengsara” yang merupakan lagu kesukaan Nabi Joseph Smith dan saudaranya Hyrum. Sungguh suatu penampilan yang sangat baik dari paduan suara dan musik. Saya berdoa saya boleh memiliki Roh Tuhan bersama saya yang telah bersama dengan kita selama konferensi kita ini, agar saya dapat berkata mengenai hal itu yang akan sangat berguna bagi anggota Gereja dan mereka yang bukan anggota. Saya merasa sangat rendah hati dalam tugas ini. Sekarang saya akan mengajukan pertanyaan yang diajukan oleh Juruselamat hampir 2000 tahun yang lalu “Jika Anak manusia itu datang, adakah Dia mendapati iman di bumi?”1 Asas Pertama Injil Apakah iman yang benar? Iman diartikan sebagai “kepercayaan dan keyakinan dan kesetiaan kepada Allah … kepercayaan yang teguh terhadap sesuatu yang tidak memiliki bukti.”2 Kita percaya bahwa “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat … dan harus berpusat kepada Yesus Kristus. Kenyataannya, kita percaya bahwa “iman kepada Yesus Kristus adalah asas Injil pertama.”3 Iman Seorang Janda Ada yang bisa mengajar kita tentang iman bila kita mau membuka hati dan pikiran kita. Orang seperti itu adalah seorang wanita yang suaminya sudah meninggal. Ditinggal sendiri untuk membesarkan anak laki-lakinya, dia telah mencoba untuk mencari cara mendukung dirinya, tetapi dia hidup pada saat ada kekurangan makanan yang mengerikan. Makanan sedikit dan banyak yang meninggal karena kelaparan. Sewaktu makanan yang tersedia berkurang, demikian juga kesempatan wanita itu untuk bertahan. Setiap hari, dia melihat dengan putus asa ketika persediaan makanannya sedikit demi sedikit berkurang. Mengharapkan bantuan, namun tidak menemukan apa-apa, wanita itu akhirnya menyadari harinya sudah tiba di mana dia hanya mempunyai cukup makanan untuk makanan terakhir. Ketika itulah seorang asing mendekatinya dan meminta sesuatu yang sulit dibayangkan. “Bawalah kepadaku,” dia berkata kepadanya, “sepotong roti.” Wanita itu memandang pria itu dan berkata, “Demi Tuhan Allahmu yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli.”Dia berkata kepadanya bahwa dia sedang mempersiapkannya sebagai makanan terakhir baginya dan anaknya, “agar kami bisa memakannya, kemudian mati.” Dia tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah Nabi Elia, dikirim oleh Tuhan. Apa yang dikatakan Nabi ini selanjutnya mungkin agak mengherankan bagi mereka dewasa ini yang tidak memahami tentang asas kekal iman. “Janganlah takut, dia berkata kepadanya. “Tetapi buatlah terlebih dahulu buatku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kau buat bagimu dan bagi anakmu.” Bisakah Anda bayangkan apa yang mungkin dia pikirkan? Apa yang dia rasakan? Dia hampir tidak mempunyai waktu untuk menjawab ketika pria itu meneruskan. “Sebab beginilah firman Tuhan, Allah Israel, tepung dalam tempayan itu tidak akan habis, dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang, sampai pada waktu Tuhan memberi hujan ke atas muka bumi.” Wanita itu, setelah mendengar janji yang diwahyukan ini, pergi dengan iman dan melakukan seperti apa yang Elia katakan. “Maka perempuan itu, dan dia, serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam tempayan tidak berkurang seperti firman Tuhan yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.”4 Dewasa ini, permintaan Nabi itu mungkin kelihatannya tidak adil dan mementingkan diri. Dewasa ini, jawaban dari janda itu agak bodoh dan kurang bijak. Karena sebagian besar kita sering kali belajar membuat keputusan dengan apa yang kita lihat. Kita membuat keputusan berdasarkan bukti di hadapan kita dan apa yang kelihatan paling penting dan terbaik bagi diri kita. “Iman,” di satu sisi, “adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”5 Iman memiliki mata yang dapat menembus kegelapan melihat terang di baliknya. “Iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.”6 Kegagalan Dalam Menjalankan Iman Sering kali dewasa ini, kita tidak bersandar pada iman sebanyak kita bersandar pada kemampuan kita sendiri untuk berunding dan memecahkan masalah. Bila kita jatuh sakit, obat-obatan yang modern dapat membuat mukjizat penyembuhan. Kita dapat melakukan perjalanan dengan jarak yang sangat jauh dalam waktu yang singkat. Kita memiliki di hadapan kita informasi yang pada waktu 500 tahun yang lalu akan membuat orang yang sangat miskin menjadi seorang pangeran. “Orang benar akan hidup oleh iman,”7 demikian kita diberitahu dari tulisan suci. Saya bertanya kembali apa iman itu? Iman ada ketika kepercayaan penuh dalam hal yang kita tidak bisa lihat digabungkan dengan tindakan yang selaras penuh pada kehendak Bapa Surgawi. Tanpa ketiga hal ini—pertama, kepercayaan penuh; kedua, tindakan; ketiga, keselarasan penuh—tanpa ketiga hal ini yang kita miliki hanya yang palsu—iman yang lemah dan encer. Biarlah saya membicarakan setiap dari tiga hal penting ini tentang iman. Pertama, kita harus memiliki kepercayaan dalam hal yang tidak kita lihat. Ketika Thomas akhirnya merasakan bekas paku dan mencucukkan tangannya ke dalam lambung Juruselamat yang telah bangkit, dia mengakui Dia, akhirnya, percaya. Kata Yesus kepadanya, “Tomas, Karena engkau telah melihat Aku maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”8 Petrus mengatakan kata-kata yang sama ketika dia memuji para pengikut zaman dahulu untuk iman mereka kepada Yesus Kristus, “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya; Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan; Karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.”9 Kedua, agar iman kita membuat perbedaan, kita harus bertindak. Kita harus melakukan segala sesuatu dalam kekuatan kita, untuk merubah kepercayaan yang pasif menjadi kepercayaan yang aktif karena sesungguhnya, “iman itu jika tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.”10 Pada tahun 1998, Presiden Gordon B. Hinckley memperingatkan Orang-orang Suci Gereja ini serta dunia secara luas. Dia mengucapkan peringatan yang sama kemarin malam di pertemuan imamat. Dia berkata “Saya menyarankan bahwa saatnya telah tiba untuk menertibkan rumah tangga kita,” dia berkata, “Ada banyak orang yang hidup di luar pendapatan mereka. Nyatanya, beberapa hidup dengan berhutang. Saya khawatir dengan cicilan hutang yang besar yang ada pada masyarakat bangsa ini, termasuk orang-orang kita.”11 Brother dan sister, ketika nubuat ini diungkapkan, beberapa anggota Gereja yang setia mengumpulkan iman mereka dan mendengarkan nasihat Nabi. Kini mereka bersyukur secara mendalam karena mereka telah melakukannya. Beberapa, mungkin percaya dengan apa yang dikatakan Nabi adalah benar namun kekurangan iman, bahkan sekecil seperti sebiji benih. Akibatnya, beberapa mengalami kesulitan dalam hal keuangan, pribadi dan keluarga. Ketiga, iman seseorang harus selaras dengan kehendak Bapa Surgawi kita, termasuk hukum-hukum alam-Nya. Burung gereja yang terbang di tengah-tengah angin taufan mungkin percaya bahwa dia bisa berhasil mengendalikan badai, tetapi hukum alam akan menyakinkan dia sebaliknya pada akhirnya. Apakah kita lebih bijaksana daripada burung gereja? Sering kali apa yang kita anggap sebagai iman di dunia ini hanyalah sesuatu yang mudah ditipu. Menyedihkan melihat bagaimana beberapa orang sangat ingin menganut mode dan pikiran-pikiran yang sedang ada sedangkan menolak atau kurang mempercayai dan memperhatikan asas-asas Injil Yesus Kristus yang kekal. Menyedihkan bagaimana beberapa orang sangat bergegas ke dalam sifat yang bodoh dan tidak beradab mempercayai bahwa Allah pada suatu saat akan menyelamatkan mereka dari akibat tragis dari tindakan mereka. Bahkan mereka masih memohon berkat surgawi tetapi mereka tahu dalam hati mereka bahwa apa yang mereka lakukan tidak sesuai kehendak Bapa kita di Surga. Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa iman kita selaras dengan kehendak Bapa Surgawi kita dan Dia menyetujui apa yang kita cari? Kita harus tahu mengenai firman Allah. Salah satu alasan mengapa kita mempelajari tulisan suci adalah untuk mengetahui urusan Bapa di Surga dengan manusia sejak awal. Bila keinginan hati kita tidak selaras dengan tulisan suci, maka kita tidak harus mengejarnya lebih lanjut. Selanjutnya, kita harus mematuhi nasihat dari nabi zaman akhir sewaktu mereka memberikan perintah yang diilhami. Selanjutnya, kita harus menenungkan dan berdoa dan mencari bimbingan Roh. Bila kita melakukannya, Tuhan berjanji bahwa, “Aku dengan perantaraan Roh Kudus akan menceritakan kepadamu dalam akalmu dan dalam hatimu, hal yang akan datang ke atasmu dan yang akan tinggal di dalam hatimu.”12 Hanya ketika iman kita selaras dengan kehendak Bapa Surgawi, kita akan diberi kuasa untuk menerima berkat-berkat yang kita cari. Asas Kekuasaan Bila dimengerti dengan benar dan dijalankan dengan sungguh-sungguh, iman adalah satu kekuatan kekekalan yang agung dan mulia. Itu adalah kekuatan di luar pemahaman kita. “Karena iman … alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah.”13 Melalui iman air dipisahkan, yang sakit disembuhkan, yang jahat didiamkan dan keselamatan dimungkinkan. Iman kita adalah pondasi di mana di atasnya terletak semua kehidupan rohani kita. Itu seharusnya menjadi sumber kehidupan kita yang paling penting. Iman bukan hanya sesuatu yang kita percaya; iman adalah sesuatu yang kita jalankan. Ingatlah firman Juruselamat. “Jika engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”14 “Sesungguhnya barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, Bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu.”15 Mengajarkan Asas Mereka yang berjalan dengan iman akan merasakan kehidupan mereka dipenuhi dengan terang dan berkat-berkat dari surga. Mereka akan memahami dan mengetahui hal-hal yang tidak dimengerti oleh orang lain. Mereka yang tidak berjalan dengan iman menganggap hal-hal dari roh sebagai hal-hal yang bodoh karena hal-hal Roh hanya dapat dirasakan oleh Pernyataan surga tertutup bagi pengertian mereka yang tidak percaya. “Karena jika tiada iman di antara anak-anak manusia,” Moroni berkata, “Allah tidak dapat melakukan mukjizat di antara mereka. Oleh karena itu, Ia tidak memperlihatkan Diri-Nya sebelum mereka beriman.”17 Namun sepanjang sejarah, bahkan pada saat kegelapan ada mereka yang, melalui iman, menembus kegelapan dan melihat hal-hal sebagaimana adanya hal-hal itu. Moroni menubuatkan bahwa, “Dan ada banyak orang yang imannya begitu kuat, … yang tidak dapat dicegah dari dalam tabir, tetapi mereka sesungguhnya melihat dengan mata mereka hal-hal yang telah mereka lihat dengan mata iman, dan mereka gembira.”18 Rumah kita seharusnya menjadi pelabuhan iman. Para ayah dan para ibu harus mengajarkan asas-asas iman kepada anak-anak mereka. Para kakek dan nenek, juga, dapat membantu. Sewaktu saya dalam sebuah kumpulan keluarga, saya berusaha menghabiskan waktu, jika sesuai, untuk berbicara satu per satu dengan beberapa cucu-cucu kami. Saya duduk dengan mereka dan menanyakan kepada mereka beberapa pertanyaan. “Bagaimana kabarmu?” “Bagaimana sekolahmu?” Kemudian, saya bertanya kepada mereka bagaimana perasaan mereka mengenai Gereja yang benar yang sangat berarti bagi saya. Saya mencoba mencari tahu kedalaman iman dan kesaksian mereka. Jika saya merasakan ketidakpastian apa pun, saya akan bertanya kepada mereka, “Maukah kamu menerima satu gol dari kakekmu?” Kemudian saya akan menyarankan mereka membaca tulisan suci setiap hari, dan merekomendasikan mereka berlutut setiap pagi dan malam dan berdoa dengan ayah dan ibu mereka dan melakukan doa pribadi. Saya akan menasihati mereka untuk selalu menghadiri pertemuan sakramen. Saya menasihati mereka untuk selalu menjaga diri mereka murni dan bersih, selalu menghadiri pertemuan-pertemuan dan pada akhirnya, di antara lain hal, selalu berusaha untuk menjadi peka terhadap bisikan-bisikan Tuhan. Kadang-kadang setelah percakapan dengan Joseph, cucu kami yang berumur delapan tahun, dia memandang ke mata saya dan menanyakan pertanyaan yang tajam ini, “Bolehkah saya pergi sekarang, kakek?” Dia berlari dari pegangan saya dan saya berpikir, “Apakah saya telah melakukan sesuatu yang baik?” Rupanya ya, sebab hari berikutnya dia berkata, “Terima kasih untuk pembicaraan kecil kita.” Jika kita mendekati mereka dengan kasih daripada dengan teguran, kita akan menemukan bahwa iman cucu-cucu kita akan meningkat sebagai hasil dari pengaruh dan kesaksian seseorang yang mengasihi Juruselamat dan Gereja-Nya yang kudus. Pencobaan Kadang-kadang dunia kelihatan gelap. Kadang-kadang iman kita dicobai. Kadang-kadang kita merasa bahwa surga ditutup bagi kita. Namun kita tidak harus menjadi sedih. Kita tidak boleh meninggalkan iman kita. Kita tidak boleh kehilangan harapan. Beberapa tahun yang lalu, saya mulai memperhatikan bahwa hal-hal di sekililing saya mulai menjadi gelap. Itu membuat saya khawatir karena hal-hal sederhana seperti melihat tulisan di dalam tulisan suci saya menjadi lebih sulit. Saya berpikir apa yang terjadi dengan kualitas lampu bohlam dan heran mengapa pembuatnya saat ini tidak dapat membuat barang-barang seperti yang telah mereka buat pada tahun-tahun yang lalu. Saya mengganti lampu-lampu bohlam itu dengan yang lebih terang. Itu, juga, menjadi kurang terang. Saya menyalahkan cara pembuatan lampu dan bohlam itu. Saya bahkan mempertanyakan apakah terangnya matahari mulai pudar sebelum pikiran itu datang kepada saya bahwa masalahnya bukanlah berapa terang yang ada dalam ruangan—masalahnya mungkin dengan mata saya sendiri. Segera setelah itu, saya pergi kepada seorang dokter mata yang menyakinkan saya bahwa dunia tidaklah menjadi gelap. Katarak di mata saya yang jadi alasan mengapa terang menjadi pudar. Saya menaruh iman saya di dalam tangan spesialis yang terlatih, katarak itu dilepaskan, dan lihatlah! Terang mulai bersinar kembali dalam kehidupan saya. Terang itu tidak pernah berkurang, hanya kemampuan saya untuk melihat terangnya yang berkurang. Ini mengajarkan kepada saya kebenaran yang mendalam. Sering kali ketika dunia agak gelap, sewaktu surga kelihatan agak jauh, kita cenderung menyalahkan semua hal di sekililing kita padahal sebenarnya penyebab kegelapan itu mungkin adalah kekurangan iman di dalam diri kita. Berbahagialah. Miliki iman dan kepercayaan. Tuhan tidak akan meninggalkan kamu. Tuhan telah berjanji jika kita “Carilah dengan tekun, berdoa selalu dan percayalah, dan segala hal akan berlangsung bagi kebaikanmu; jika engkau hidup tak bercela.”19 Saya tahu seperti Alma yang dulu bahwa “barangsiapa yang mau menaruh kepercayaannya kepada Allah akan dibantu dalam pencobaan, kesulitan, dan kesengsaraan mereka dan akan diangkat pada hari terakhir.”20 Bapa di Surga kita adalah makhluk yang kuat, bergerak, membimbing. Sedangkan kita mungkin, pada saat-saat tertentu, mengalami kesedihan, kesakitan, dan kedukaan, sementara kita berusaha untuk mengerti pencobaan iman yang kita harus lalui; sementara kehidupan tampak gelap dan suram—melalui iman, kita mempunyai kepercayaan penuh bahwa seorang Bapa di Surga terkasih berada di sisi kita. Seperti yang dijanjikan oleh Rasul Paulus, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.”21 Dan satu hari, kita akan melihat secara menyeluruh melalui kegelapan ke dalam terang. Kita akan memahami rencana kekal-Nya, belas kasih-Nya, dan kasih-Nya. “Jika Anak manusia itu datang, adakah Dia mendapati iman?” Mungkin, sewaktu para anggota Gereja percaya dengan segenap hati mereka, merubah harapan dan keyakinan mereka ke dalam tindakan, dan berusaha untuk menyelaraskan diri mereka dengan kehendak Tuhan, jawaban dari pertanyaan Juruselamat yang Dia ajukan 2000 tahun yang lalu akan bergema. “Tentu saja, Dia akan mendapati iman. Dia akan mendapati iman di antara mereka yang mengambil ke atas diri mereka nama-Nya. Dia akan mendapati-Nya di-antara mereka yang menjalankan asas-asas-Nya yang kudus. Kesaksian Saya bersaksi bahwa melalui Nabi kita, pelihat, dan pewahyu Presiden Gordon B. Hinckley, Tuhan kita dan Juruselamat, Yesus Kristus, berbicara kepada kita semua saat ini. Saya bersaksi injil dipulihkan dalam kegenapannya melalui Nabi Joseph Smith. Iman, sebuah kekuatan yang kekal adalah sebuah karunia dari Bapa di Surga bagi seluruh umat manusia. Untuk kebenaran yang kekal ini saya membagikan kesaksian pribadi saya dalam nama Yesus Kristus, amin.
adakah iman di bumi ini